HADATS BESAR DAN CARA MENSUCIKANNYA

HADATS BESAR

  1. Pengertian Hadats Besar

Hadas besar adalah dimana kondisi hukum seseorang yang sedang dalam keadaan janabah. Dan janabah itu merupakan status hukum yang tidak berbentuk fisik, maka janabah identik dengan tidak kotor. Ada beberapa penyebab mengapa seseorang dapat dikatakan sedang menyandang status janabah, diantaranya keluar mani. Dalam hal ini seseorang yang keluar maninya baik sengaja ataupun tidak sengaja, meski dia telah menyuci maninya dengan bersih lalu menggantinya dengan celana yang bersih dan mengganti baju yang bersih pula dengan pakaian yang baru namun seseorang tersebut belum dapat dikatakan suci dari hadas besar karena seseorang tersebut belum mandi janabah, oleh karena itu seseorang yang sedang besar diwajibkan untuk mandi janabah agar suci kembali.

  • Penyebab Hadats Besar
  • Keluar Mani

Disini dimana seseorang keluar maninya dari kemaluan, sehingga seseorang tersebut diharuskan mandi janabah, baik keluar mani tersebut sengaja (masturbasi) ataupun tidak sengaja. Berikut merupakan sabda Rasulullah SAW dari Abi Said Al-Khudri R.A berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya air itu (kewajiban mandi) dari sebab air (keluarnya sperma).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun terdapat sedikit perbedaan pandangan dalam hal ini diantara para fuqaha’ mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah mensyaratkan bahwa keluarnya mani itu karena syahwat atau dorongan gejolak nafsu baik keluar sengaja ataupun tidak disengaja. Yang terpenting itu ada sebuah dorongan syahwat seiring dengan keluarnya mani tersebut, maka barulah seseorang tersebut diwajibkan untuk mandi janabah. Sedangkan untuk mazhab Asy-Syafi’iyah memutlakkan bahwa keluarnya air mani yang berupa adanya syahwat ataupun karena sakit semuanya tetap diwajibkan mandi janabah.

  • Bertemunya Dua Kemaluan

Bertemunya dua kemaluan yang dimaksud adalah dimana kemaluan laki-laki dan kemaluan wanita bertemu, dan dalam istilah disebut dengan bersetubuh (jima’).Baik disengaja atau tidak maka hal tersebut diwajibkan untuk mandi janabah. Dari Aisyah R.A bahwa Rasulullah SAW bersabda “Bila dua kemaluan bertemu atau bila kemaluan menyentuh kemaluan lainnya maka hal itu mewajibkan mandi janabah. Aku melakukannya bersama Rasulullah SAW dan kami mandi.” Dari Abi Hurairah R.A berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Bila seseorang duduk di antara empat cabangnya kemudian bersungguh-sungguh (menyetubuhi) maka sudah wajib mandi.” (HR. Muttaqun ‘alahi)

  • Meninggal Dunia

seorang yang meninggal dunia, maka wajib bagi orang lain yang masih hidup untuk memandikan jenazah tersebut. Berikut sabda Rasulullah SAW “Mandilah dengan air daun bidara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Haidh

Haid atau yang disebut dengan menstruasi merupakan kejadian alamiyah yang dialami oleh seorang wanita dan hal tersebut merupakan suatu kerutinan setiap bulan yang dialami oleh seorang wanita. Menstruasi atau haid adalah keluarnya darah dari kemaluan seorang wanita, keluarnya darah dari seorang wanita itu maka menunjukkan bahwa wanita itu sehat. Berikut merupakan firman Allah SWT  mereka bertanya kepadamu tentang haid.Katakanlah “Haid itu adalah kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka bersuci. Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah : 22)

  • Nifas

Nifas adalah dimana keluarnya darah dari kemaluan seorang wanita yang telah melahirkan seorang anak. Nifas itu mewajibkan mandi janabah meskipun jika kondisi bayi tersebut dalam kondisi mati atau meninggal. Begitu berhenti dari keluarnya darah sesudah persalinan atau melahirkan, maka wajib atau wanita tersebut untuk mandi janabah. Untuk hukum nifas ini sama seperti hukum haid, yaitu seorang wanita tidak boleh shalat, puasa ataupun yang lainnya.

  • Melahirkan

Melahirkan merupakan tugas dari seorang wanita dan jika wanita tersebut dalam kondisi sudah melahirkan dan meskipun anak nya dalam keadaan meninggal, maka tetap wajib hukumnya untuk melakukan mandi janabah. Meskipun saat melahirkan itu tidak ada darah yang keluar. Sebagian ulama mengatakan bahwa illat atas wajib mandinya wanita yang melahirkan dalah karena anak yang dilahirkan itu pada hakikatnya adalah air mani juga meskipun sudah berubah wujud menjadi manusia.

  • Cara Mensucikannya
  1. Niat
  2. Mengguyurkan air ke seluruh tubuh
  3. Mencuci tangan tiga kali sebelum memulai (sebelum tangan dimasukkan ke dalam bejana dan sebelum digunakan untuk membasuh tubuh). Tujuannya, membersihkan tangan terlebih dahulu.
  4. Membersihkan kemaluan dan kotoran dengan menggunakan tangan kiri. Disunnahkan beristinja’ dengan memakai air.
  5. Membersihkan tangan setelah digunakan untuk membersihkan kemaluan. Mensucikan atau membersihkan tangan dilakukan dengan memakai debu, tanah, atau sabun. Tujuannya untuk menghilangkan kotoran.
  6. Berwudhu, sebagaimana wudhu sebelum shalat. Langkah ini termasuk sunnah dan tidak wajib.
  7. Mengguyur air di kepala sebanyak tiga kali, dengan memastikan hingga sampai ke pangkal rambut. Kemudian mencuci kepala bagian kanan, lalu bagian kiri.
  8. Setelah itu menyela-nyela rambut, seperti dalam hadis dari Aisyah ra. “Jika Rasulullah mandi junub, beliau mencuci tangannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mandi dengan menggosok-gosokkan tangannya ke rambut kepalanya hingga bila telah yakin merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya” (HR.Bukhari).
  9. Mengguyurkan air ke seluruh tubuh. Disunnahkan untuk memulai dengan mengguyur tubuh bagian kanan, kemudian bagian kiri.

Catatan bagi Wanita untuk Membersihkan Hadas Besar dari Haid

1. Menggunakan sabun dan air untuk membersihkan diri dari hadas besar.

Dituturkan oleh Aisyah ra, dahulu Asma’ pernah bertanya kepada Rasulullah tentang mandi besar untuk wanita yang selesai haid. Rasulullah kemudian bersabda, “Salah seorang dari kalian hendaklah mengambil air dan daun bidara, lalu engkau bersuci, lalu membaguskan bersucinya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya tadi. Kemudian engkau mengambil kapas bermisik, lalu bersuci dengannya.

Lalu Asma’ berkata, “Bagaimana dia dikatakan suci dengannya?” Beliau bersabda, “Subhanallah, bersucilah kamu dengannya.” Lalu Aisyah berkata, “Kamu sapu bekas-bekas darah haid yang ada (dengan kapas tadi)”. Dan dia bertanya kepada beliau tentang mandi junub, maka beliau bersabda, ‘Hendaklah kamu mengambil air lalu bersuci dengan sebaik-baiknya bersuci, atau bersangat-sangat dalam bersuci kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mencurahkan air padanya’” (HR.Bukhari dan Muslim).

2. Jika membersihkan diri dari hadas besar setelah haid

Harus memastikan air sampai ke akar rambut dan menggosok dengan keras. Jika berkepang, maka harus melepas kepangnya.

Dalam hadis yang mengisahkan tentang jawaban cara membersihkan diri setelah haid untuk Asma’ di atas, ada kalimat “Kemudian hendaklah kamu menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya”.

Sementara dalam hadis untuk mandi junub disebutkan: “Kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mengguyurkan air padanya”.

3. Disunnahkan membawa kapas atau potongan kain saat membersihkan hadas besar usai haid

Fungsinya untuk menghilangkan sisa-sisa darah di tempat keluarnya. Selain itu, disunnahkan mengusapkan wewangian (misal minyak misik atau parfum) untuk menghilangkan aroma tidak sedap.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *